Premier cercle — Comprendre le projet

Sageokrasi di dunia: mengapa 17 bahasa, mengapa sekarang

Sebuah buku tentang pemerintahan dunia yang ditulis dalam bahasa Prancis, diterjemahkan ke tujuh belas bahasa bahkan sebelum penerbitannya, disebarkan melalui suatu situs yang dirancang untuk dibaca di semua benua — pilihan ini bukan tanpa makna. Ia mencerminkan suatu keyakinan mendasar dari proyek ini: bahwa tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat kita tidak dapat diselesaikan pada skala nasional, dan bahwa jawaban-jawaban yang muncul dari satu budaya saja, satu bahasa saja, satu tradisi pemikiran saja, pasti akan tak lengkap.

Artikel ini menjelaskan mengapa dimensi multibahasa dan mendunia dari Sageokrasi bukanlah pelengkap proyek — melainkan salah satu syarat keabsahannya.

Persoalan universalitas dari satu tempat saja

Semua usulan politik modern yang besar telah mengaku universal dari suatu tempat yang khusus. Demokrasi liberal sebagian besar dipikirkan dalam bahasa Inggris, dari tradisi filosofis Britania dan Amerika. Marxisme dirumuskan dalam bahasa Jerman, dari suatu pembacaan Eropa atas sejarah. Hak-hak asasi manusia diproklamasikan dalam bahasa Prancis, dari suatu revolusi yang memiliki kontradiksi kolonialnya sendiri.

Universalisme-universalisme parsial ini telah menghasilkan gagasan-gagasan penting, lembaga-lembaga yang nyata, kemajuan-kemajuan yang tak terbantahkan. Mereka juga telah menghasilkan titik-titik buta yang besar — realitas-realitas yang tak mampu dilihat oleh bahasa dan budaya asalnya, populasi-populasi yang pengalamannya tak menemukan terjemahan dalam kerangka konseptual tersebut.

Sageokrasi tidak mengaku terbebas dari persoalan ini. Ia lahir dari suatu pemikiran yang khas, diusung oleh seorang penulis berbahasa Prancis, dipupuk oleh tradisi-tradisi filosofis dan spiritual yang khusus. Tetapi ia menanggapi persoalan ini dengan sungguh-sungguh sejak awal, dengan membangun penyebarannya yang multibahasa bukan sebagai terjemahan permukaan, melainkan sebagai undangan untuk saling memperkaya.

Apa yang disumbangkan setiap bahasa

Menerjemahkan Sageokrasi ke tujuh belas bahasa bukanlah latihan menerjemahkan dalam arti harfiah. Ia adalah latihan mentransposisikan — memverifikasi bahwa konsep-konsep inti proyek ini memiliki resonansi, padanan, nuansa tersendiri dalam setiap bahasa dan setiap budaya.

Konsep sintoni, misalnya, beresonansi secara berbeda dalam bahasa Jepang — di mana gagasan-gagasan seperti ma (ruang yang tepat di antara segala sesuatu) atau musubi (ikatan yang harmonis) menawarkan pintu masuk yang tak dimungkinkan oleh bahasa Prancis. Konsep yang hidup menemukan gema yang dalam dalam tradisi-tradisi filosofis Afrika — terutama ubuntu (aku ada karena kita ada) — yang memperkaya maknanya jauh melampaui apa yang dapat dirumuskan oleh tradisi filosofis Eropa. Gagasan kontribusi harmonik berdialog secara alami dengan praktik-praktik komunitas yang berakar di banyak budaya Selatan global, di mana nilai suatu perbuatan tidak diukur dari keuntungan dagangnya melainkan dari dampaknya bagi komunitas.

Resonansi-resonansi ini bukan kebetulan. Mereka mengisyaratkan bahwa Sageokrasi, jauh dari sekadar ekspor suatu visi dunia ala Barat, menyentuh sesuatu yang lebih mendasar — intuisi-intuisi tentang pemerintahan yang adil yang telah dikembangkan secara mandiri oleh banyak tradisi manusia, dan yang berupaya diartikulasikan proyek ini dalam suatu bahasa yang dapat dijangkau pada abad ke-21.

Mengapa sekarang

Persoalan tentang waktunya tidaklah kurang penting dibanding persoalan tentang bahasanya.

Kita hidup dalam suatu konvergensi kondisi yang langka, yang menjadikan saat ini sangat tepat bagi munculnya suatu usulan seperti Sageokrasi.

Kondisi pertama adalah krisis kepercayaan yang serentak terhadap sistem politik di semua benua. Krisis ini tidaklah seragam — ia mengambil bentuk yang berbeda-beda di Eropa, di Amerika Latin, di Afrika, di Asia. Tetapi ia memiliki satu ciri yang sama: semakin banyak warga, dalam konteks budaya yang sangat berbeda, merasa bahwa lembaga-lembaga yang ada tak lagi mampu menjawab tantangan-tantangan nyata zaman mereka. Perasaan ini menciptakan suatu keterbukaan — bukan jaminan, melainkan keterbukaan — bagi usulan-usulan alternatif.

Kondisi kedua adalah konektivitas dunia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, suatu gagasan dapat menyebar secara serentak di puluhan negara, dalam puluhan bahasa, tanpa melewati penyaringan penerbit-penerbit nasional, media-media dominan, atau aparat-aparat politik. Konektivitas ini memiliki dampak buruk yang terdokumentasi dengan baik — disinformasi menjelajah secepat kebenaran, sering kali lebih cepat. Tetapi ia juga menciptakan suatu kemampuan menyebarkan gagasan-gagasan yang serius yang tiga puluh tahun lalu belum ada.

Kondisi ketiga adalah percepatan krisis-krisis global. Kekacauan iklim, migrasi massal, pandemi, ketidakstabilan geopolitik — fenomena-fenomena ini menciptakan tekanan yang kian meningkat pada sistem-sistem politik nasional, dan menjadikan semakin jelas bahwa jawaban-jawaban nasional terhadap krisis-krisis global secara struktural tidak memadai. Kejelasan ini membuka ruang bagi usulan-usulan pemerintahan yang berpikir pada skala di mana masalah-masalah benar-benar muncul.

Apa makna Peta Dunia

Peta Dunia para Sageokrat — pemetaan dunia atas pendaftaran per negara — adalah sekaligus alat praktis dan simbol politik. Ia belum terlihat: ini adalah pilihan yang disengaja, yang dirinya sendiri merupakan demonstrasi koherensi. Penghitungan per negara baru akan diumumkan ketika ia mencapai ambang relevansi internasional. Angka-angka hanya bermakna ketika mereka mencerminkan suatu dinamika nyata pada skala di mana ia diperhitungkan.

Apa yang terjadi sementara itu adalah nyata, meski tak terlihat. Setiap pendaftaran dicatat sejak diserahkan — diberi tanggal, dilengkapi lokasi geografis, divalidasi. Ia tercantum dalam daftar dunia dan akan diperhitungkan pada saatnya.

Ketika ambang itu tercapai, peta itu akan hidup. Setiap titik yang muncul akan menjadi suatu perbuatan kedaulatan warga — seseorang, di suatu tempat di dunia, yang telah memutuskan bahwa arah ini cocok baginya dan telah memilih untuk menyatakannya. Kemajuan akan terlihat negara demi negara, memungkinkan untuk mengikuti dinamika penyebaran, mengenali wilayah-wilayah tempat proyek ini berakar, mengukur apa yang tidak diukur oleh jajak pendapat: suatu kehendak yang dinyatakan secara formal, diberi tanggal, dan tak dapat diputarbalikkan.

17 bahasa sebagai komitmen

Tujuh belas bahasa yang menjadi sarana penyebaran Sageokrasi bukanlah daftar yang menyeluruh tentang dunia. Mereka adalah titik awal — suatu komitmen yang diambil proyek ini terhadap keberagaman tradisi pemikiran dan pengalaman manusia yang dapat memperkaya, mengoreksi, dan memperdalam apa yang hanya dapat digariskan oleh seorang penulis saja, dari satu tempat saja.

Sageokrasi baru akan sepenuhnya menjadi apa yang ia kehendaki ketika ia telah dibaca, dikritik, diterjemahkan, dan diubah oleh orang-orang yang pengalamannya secara radikal berbeda dari pengalaman mereka yang melahirkannya. Ini adalah syarat keabsahannya, bukan risiko bagi koherensinya.

Sebuah proyek pemerintahan dunia yang hanya mampu berbicara kepada mereka yang sudah serupa dengannya bukanlah proyek pemerintahan dunia. Ia adalah sebuah klub.

« Sebuah gagasan yang hanya dapat diungkapkan dalam satu bahasa tetap menjadi tawanan satu budaya. Sageokrasi ingin menjadi milik semua budaya. »

Buku La Sageocratie — Vers une société fondée sur la conscience, la syntonie et le vivant tersedia dalam tujuh belas bahasa di sageocracy.org. Buku ini sedang dalam proses pengajuan kepada penerbit dan akan segera terbit dalam versi cetak.