Setiap masyarakat berlandaskan suatu kesepakatan: kesepakatan tentang apa yang diperhitungkan. Apa yang diakui akan dihargai — kepadanya kita curahkan waktu, sumber daya, perhatian. Apa yang tidak diakui lenyap dari pertimbangan, anggaran, keputusan kolektif. Bukan karena ia tidak ada, melainkan karena alat-alat yang tersedia bagi kita tidak mampu melihatnya.
Masyarakat kita mampu menghitung produksi ekonomi, pendapatan, kapitalisasi pasar saham, PDB. Mereka tidak mampu — atau hanya dengan sangat buruk — memperhitungkan kohesi sosial, kesehatan ekosistem, transmisi pengetahuan, kepedulian yang diberikan kepada orang-orang yang rentan, kontribusi para seniman bagi vitalitas suatu komunitas, kerja tak terlihat dari mereka yang memelihara jalinan yang hidup tanpa diberi upah oleh pasar.
Ini bukanlah suatu kelalaian yang bisa diperbaiki dengan mengubah dua atau tiga undang-undang. Ini adalah batas dari sistem itu sendiri: ekonomi kita hanya mampu menilai satu hal, yaitu apa yang dapat dijual. Selebihnya luput darinya. Sageokrasi tidak berupaya menyempurnakan alat ukur ini — ia menawarkan sesuatu yang lain, yang berbeda kodratnya: Reliances.
Reliances bukanlah suatu cara untuk mengukur nilai. Itu hanya akan mengulang persoalan yang sama dengan nama yang lain. Mereka adalah suatu cara untuk mengakui apa yang disumbangkan setiap orang kepada dunia — termasuk apa yang tidak dapat dijual. Mengakui bukanlah mengukur: ia adalah menjadikan terlihat, membuat ada dalam pandangan kolektif apa yang tanpa itu akan tetap berada dalam bayang-bayang.
Apa yang diakui oleh Reliances
Sebuah Reliance bukanlah satuan perhitungan, bukan pula mata uang dalam arti transaksional. Ia adalah jejak yang hidup dari suatu kontribusi bagi kebaikan bersama — tanda, yang tersimpan dalam memori suatu kolektif, bahwa pada suatu saat, dalam suatu situasi tertentu, apa yang disumbangkan itu tepat dan telah membantu keseluruhan.
Apa yang dipandang oleh pengakuan ini bukanlah pribadi seseorang secara mutlak, bukan pula niatnya. Melainkan apa yang ia sumbangkan secara konkret. Dan untuk menangkapnya, ada tiga pertanyaan yang berulang — yang tidak dihitung, melainkan dipertimbangkan bersama.
Yang pertama adalah jangkauan temporal: apakah kontribusi itu menghasilkan dampak yang sekejap, ataukah ia menciptakan kondisi yang menguntungkan dan bertahan lama? Sebuah keputusan yang menghemat sumber daya hari ini sambil merusak suatu ekosistem selama satu abad tidak menuju ke arah yang benar. Sebuah tindakan yang mahal dalam jangka pendek, tetapi yang memperkuat ketahanan suatu komunitas untuk dekade-dekade mendatang, justru menuju ke arah yang benar.
Yang kedua adalah jangkauan sistemik: apakah kontribusi itu menyentuh seorang individu, suatu kelompok terbatas, ataukah keseimbangan-keseimbangan yang lebih luas — sosial, ekologis, budaya? Sebuah perbuatan kepedulian sehari-hari terhadap seorang lansia yang terkucil berarti pada suatu skala yang lokal, tetapi nyata. Sebuah cara bertindak yang secara berkelanjutan mengurangi ketimpangan berarti pada suatu skala yang lebih luas. Tak satu pun menghapus yang lain.
Yang ketiga, dan yang paling menuntut, adalah koherensi dengan yang hidup: apakah kontribusi itu menyuburkan atau memiskinkan jalinan yang hidup, manusia maupun non-manusia? Inilah yang paling sulit dicermati, dan yang paling mendasar. Ia begitu sentral sehingga ia bekerja sebagai sebuah saringan: apa yang menghancurkan yang hidup tidak dapat, menurut kodratnya, menghasilkan Reliances — bukan karena suatu aturan melarangnya, melainkan karena kontribusi bagi yang hidup memang tidak ada di sana.
Apa yang bukan Reliances
Beberapa kesalahpahaman yang dapat diperkirakan layak dihapuskan sejak awal.
Reliances bukanlah mata uang pengganti. Mereka tidak dapat ditukar dengan uang, tidak dapat dibeli, tidak dapat ditimbun. Mereka beroperasi dalam ranah yang lain — ranah pengakuan, bukan pertukaran dagang.
Mereka bukanlah poin yang dapat dikumpulkan, bukan pula ukuran jam kerja, bukan pula imbalan yang dibagikan sebagai ganti suatu perbuatan. Mereduksi suatu kontribusi menjadi sebuah skor atau sebuah hitungan justru berarti jatuh kembali ke dalam logika pengukuran yang hendak mereka lampaui.
Mereka bukanlah mata uang kripto. Mereka tidak berlandaskan logika aset spekulatif dan tidak bertujuan menciptakan kelas kekayaan baru yang dapat dipertukarkan. Analoginya bersifat dangkal dan menyesatkan: ia memproyeksikan pada Reliances semangat penimbunan yang justru itulah yang mereka jauhi.
Akhirnya, mereka bukanlah sistem pemeringkatan sosial. Mereka tidak berfungsi untuk mengawasi perilaku, untuk mengaitkan akses terhadap hak-hak dengan suatu skor kepatuhan, ataupun untuk menyusun hierarki manusia menurut keutamaan yang dipamerkan. Mereka menjadikan terlihat apa yang tepat; mereka bukanlah alat kendali. Setiap penyimpangan ke arah ini akan mengkhianati prinsip yang melandasi mereka itu sendiri.
Preseden-preseden yang menerangi arah
Gagasan untuk mengakui dengan cara lain apa yang diperhitungkan bukanlah hal baru. Beberapa eksperimen, yang baru atau sedang berlangsung, menerangi arah yang ditempuh Reliances.
Indikator-indikator kesejahteraan yang dikembangkan oleh negara-negara seperti Bhutan, Selandia Baru, atau Skotlandia telah menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk mengarahkan suatu kebijakan publik dengan memasukkan apa yang diabaikan PDB: kesehatan mental, ikatan sosial, keadaan ekosistem, makna masa depan. Eksperimen-eksperimen ini tidak sempurna, tetapi mereka membuktikan bahwa secara politis adalah mungkin untuk memperluas pandangan.
Mata uang lokal dan komplementer — dari SOL-Violette di Lyon hingga Brixton Pound di London — telah menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk menciptakan instrumen yang mengarahkan perilaku menuju kohesi dan keberlanjutan, tanpa menggantikan mata uang nasional. Reliances bukanlah suatu mata uang; tetapi eksperimen-eksperimen ini membuktikan bahwa suatu masyarakat dapat membuat ada bentuk-bentuk nilai yang lain selain semata-mata harga pasar.
Akhirnya, sistem berbagi waktu dan bank waktu telah menunjukkan bahwa kepedulian, gotong royong, dan transmisi pengetahuan dapat diakui dan dihormati dalam logika non-pasar, tanpa kehilangan sedikit pun sifatnya sebagai pemberian.
Reliances berada dalam garis keturunan ini — dengan menyistematisasikannya, dan dengan menghubungkannya secara eksplisit dengan suatu arsitektur pemerintahan.
Bagaimana Reliances membuka tanggung jawab
Dalam arsitektur Sageokrasi, Reliances bukanlah sekadar alat pengakuan simbolis. Mereka adalah sebuah kunci. Ketika kontribusi-kontribusi seseorang telah diakui sebagai tepat dan bertahan lama dalam suatu bidang, kepadanya secara lebih alami dipercayakan tanggung jawab dalam bidang itu — bukan melalui keputusan yang sewenang-wenang, melainkan karena ia telah menunjukkan, dengan bertindak, bahwa ia mampu. Legitimasi dengan demikian terbangun seiring waktu, melalui perbuatan, dan bukan melalui suatu gelar.
Dimensi ini bersifat politik, dan ia menentukan. Mengakui sudah berarti memilih apa yang kita pandang bersama. Sistem-sistem penilaian tidak pernah netral: PDB bukanlah deskripsi objektif tentang realitas ekonomi, ia adalah suatu pilihan tentang apa yang layak diperhitungkan — suatu pilihan dengan konsekuensi yang sangat besar, yang mengarahkan keputusan publik, mengesahkan sejumlah kegiatan dan membuat kegiatan lain tak terlihat.
Reliances mengajukan pilihan yang lain. Mereka berkata bahwa kepedulian itu diperhitungkan. Bahwa transmisi itu diperhitungkan. Bahwa ketahanan ekologis itu diperhitungkan. Bahwa kesetiaan pada jalinan yang hidup itu diperhitungkan. Dan bahwa hal-hal ini dapat dijadikan terlihat — secara tak sempurna, sementara, dalam suatu kerja penyempurnaan yang berkelanjutan — tanpa menunggu sampai semuanya menemukan terjemahan dagangnya. Mereka tidak hanya membuka tanggung jawab: mereka juga membuka akses kepada berbagai kemungkinan — pelatihan yang langka, perangkat yang dibagikan bersama, ruang-ruang untuk berkarya. Apa yang mereka berikan tak pernah merupakan hal yang esensial, karena yang esensial dijamin bagi semua orang, tanpa syarat; mereka memberikan apa yang memperluas dan memperdalam kehidupan.
Inilah barangkali usulan Sageokrasi yang paling tenang, sekaligus yang paling radikal: bukan mengganti para penguasa, melainkan mengubah apa yang dipandang para penguasa ketika mereka mengambil keputusan.
Sebuah pengakuan yang sedang dibangun
Reliances, sebagaimana digambarkan dalam buku, adalah suatu arsitektur prinsip, bukan suatu sistem yang telah dibekukan. Penerapannya — cara pengakuan terorganisasi secara konkret, ruang-ruang deliberasi, lembaga-lembaga yang mewadahinya — adalah suatu proyek yang terbuka. Ia memanggil kontribusi-kontribusi yang beragam: praktisi kepedulian, ekolog, ekonom, filsuf, dan terutama komunitas-komunitas yang secara langsung bersangkutan.
Suatu platform bersama akan memungkinkan, pada saatnya, setiap orang untuk melaporkan suatu kontribusi dan menerima gemanya — apa yang sungguh-sungguh telah dihasilkannya. Ia akan berkembang seiring tumbuhnya gerakan ini: hemat energi, tanpa otoritas pusat, dan dirancang agar tidak dapat diputarbalikkan.
Ini disengaja. Sageokrasi tidak mengaku memiliki semua jawaban. Ia mengaku mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, dan menciptakan kondisi agar jawaban-jawaban muncul secara kolektif — dalam suatu proses yang dirinya sendiri bersintoni: peka terhadap sinyal, dapat disesuaikan secara berkelanjutan, berakar pada kenyataan.
« Apa yang tidak diakui lenyap dari keputusan. Reliances adalah suatu cara untuk membuat ada apa yang sungguh-sungguh diperhitungkan. »
Buku La Sageocratie — Vers une société fondée sur la conscience, la syntonie et le vivant mengembangkan arsitektur lengkap Reliances, landasannya, dan penerapan konkretnya di berbagai sektor. Buku ini sedang dalam proses pengajuan kepada penerbit dan akan segera terbit.